Iklan

Iklan

Satu-satunya Macet yang Selalu Kutunggu Setiap Tahun "So makang?"

July 27, 2026, 11:22 AM WIB Last Updated 2026-07-27T03:22:03Z


Minahasa, Elnusanews -Kalau belum pernah datang ke Hari Pengucapan Syukur di Minahasa, mungkin kalimat itu terdengar biasa saja.

Padahal, bagi kami, itu bisa menjadi awal dari sebuah "musibah" kecil.

Musibah bagi timbangan badan.

Setiap tahun aku selalu berangkat dari Manado dengan niat yang terdengar sangat mulia.

Hari ini aku cuma mau silaturahmi.

Makan secukupnya.

Tidak usah berlebihan.

Lagi pula, rumah yang harus dikunjungi banyak.

Masalahnya, niat itu biasanya hanya bertahan sampai rumah pertama.

Begitu masuk rumah kedua, tuan rumah langsung bertanya, "So makang?"

Aku menjawab dengan penuh percaya diri, "Sudah so makang."

Biasanya mereka mengangguk.

Lalu berkata dengan tenang,

"Ndak apa... makang ulang jo kwa neeh."

Di titik itulah aku sadar bahwa jawabanku tadi sebenarnya tidak pernah dianggap sebagai jawaban.

Hari Pengucapan Syukur di Minahasa memang selalu begitu.

Pagi-pagi sekali, kampung sudah sibuk, bahkan sejak malam sebelumnya.

Di dapur, dodol diaduk bergantian. Membuat dodol bukan pekerjaan untuk orang yang mudah menyerah.

Berjam-jam mengaduk tanpa boleh lengah. Yang paling rajin biasanya bukan yang paling banyak bicara.

Yang paling banyak memberi komentar justru sering muncul ketika dodol hampir matang.

Di halaman rumah, bambu-bambu berisi nasi jaha mulai dipanggang. Aroma santan, jahe, dan daun pisang perlahan memenuhi udara.

Bau itu selalu lebih cepat sampai ke hidung daripada orang yang membawanya ke meja makan.

Aku percaya, kalau aroma bisa dijadikan alarm, nasi jaha pasti termasuk yang paling ampuh membangunkan kenangan.

Pukul sembilan pagi, suasana berubah.

Lonceng gereja berbunyi.

Jemaat datang mengenakan pakaian terbaik. Yang menarik, banyak orang datang bukan hanya membawa Alkitab.

Di tangan mereka ada setandan pisang, sayur-mayur, beras, kelapa, jagung, ubi, buah-buahan,

bahkan nasi lengkap dengan lauk-pauk, nasi jaha, panada, dodol, dan aneka kue tradisional.

Semuanya diletakkan di depan altar.

Didoakan.

Lalu dilelang.

Hasil lelang itu dipakai untuk pelayanan gereja, membantu para pendeta, dan menopang warga jemaat yang membutuhkan.

Aku selalu menyukai bagian itu.

Karena ternyata rasa syukur tidak berhenti di dalam doa.

Ia ikut turun dari altar, lalu berjalan menuju orang-orang yang membutuhkan.

Sejarah Pengucapan Syukur sebenarnya panjang.

Tradisi ini berakar dari kebiasaan masyarakat Minahasa yang mengucap syukur setelah musim panen.

Ketika Injil masuk dan kekristenan berkembang, rasa syukur itu menemukan bentuk baru melalui ibadah di gereja.

Tetapi terus terang, bagiku, sejarah paling indah bukanlah tahun berapa tradisi itu dimulai.

Sejarah paling indah adalah kenyataan bahwa sampai hari ini, ribuan orang masih rela pulang ke kampung hanya untuk duduk semeja dengan keluarga.

Di zaman ketika orang lebih sering bertemu lewat layar ponsel daripada ruang tamu, itu bukan perkara kecil.

Selepas ibadah, kampung berubah menjadi sangat hidup.

Pintu rumah terbuka sejak siang.

Kursi tambahan bermunculan entah dari mana. Ada yang dipinjam dari tetangga. Ada bangku dapur yang ikut naik pangkat menjadi kursi tamu.

Rumah yang biasanya tenang mendadak seperti tempat reuni besar.

Orang datang silih berganti.

Ada keluarga.

Ada sahabat.

Ada tetangga.

Ada teman sekolah yang terakhir bertemu entah kapan.

Lucunya, hampir semua tamu punya kalimat pembuka yang sama.

"Cuma mo singgah ndak lama jo."

Kalimat itu sama sulit dipercayainya dengan janjiku untuk makan sedikit.

Di ruang tamu, cerita mengalir tanpa perlu dipancing.

Ada yang mengenang masa sekolah.

Ada yang membahas harga cengkih dan nilam.

Ada yang bertanya kapan anaknya wisuda.

Lalu, entah siapa yang memulai, obrolan mendadak berbelok ke Piala Dunia yang baru saja selesai.

Mendadak semua orang berubah menjadi pelatih.

Ada yang yakin Spanyol memang pantas juara.

Ada yang masih membela tim favoritnya yang gugur lebih awal.

Yang paling lucu adalah mereka yang sekarang mengaku sudah menjagokan sang juara sejak awal turnamen.

Padahal waktu itu, status Facebook-nya masih penuh dukungan untuk tim yang berbeda.

Untung tidak ada VAR di ruang tamu.

Kalau ada, mungkin beberapa orang harus mengoreksi sejarah versinya sendiri.

Perdebatan itu biasanya berhenti bukan karena ada yang menang.

Melainkan karena suara dari dapur.

"Wooii, Makang dulu jo kwa!"

Percayalah, di Minahasa, sepiring nasi jauh lebih ampuh menyelesaikan perdebatan daripada seribu komentar di media sosial.

Kalau ada satu hal yang selalu membuatku kagum, itu adalah cara orang Minahasa menjamu tamu.

Bukan hanya karena makanannya banyak dan enak-enak.

Tetapi karena mereka sungguh ingin semua orang merasa diterima.

Di banyak rumah tersedia pula hidangan berbahan ikan, ayam, sayur-mayur, dan menu halal

agar sahabat-sahabat Muslim maupun tamu dari latar belakang yang berbeda bisa ikut menikmati jamuan dengan nyaman.

Tidak ada yang sibuk bertanya soal identitas.

Yang lebih penting justru memastikan piring tamunya tidak kosong.

Barangkali memang begitulah cara kasih bekerja di meja makan.

Ia tidak banyak berbicara.

Ia lebih sering menyendokkan makanan.

Sore berganti malam.

Aku pamit pulang menuju Manado.

Kupikir jalanan sudah mulai lengang.

Ternyata aku terlalu optimistis.

Pukul 20.33 WITA, ketika baru tiba di Manado, telepon dari kampung masuk.

"Masih macet."

Tak lama kemudian, saudara dari Tondano menelepon.

"Di sini juga masih padat."

Aku tertawa kecil.

Setiap tahun memang begitu.

Jalan menuju Minahasa selalu penuh sampai sekitar pukul delapan malam, kadang lewat sedikit.

Ada yang masih bertamu.

Ada yang baru pulang.

Ada pula yang mungkin masih mencari rumah berikutnya untuk disinggahi.

Dan anehnya, ini mungkin satu-satunya kemacetan yang tidak pernah benar-benar ingin kukeluhkan.

Karena setiap mobil di jalan itu membawa cerita.

Ada yang membawa dodol.

Ada yang membawa nasi jaha.

Ada yang membawa panada.

Ada yang membawa kantong plastik berisi buah dan sayur dari kebun.

Tetapi hampir semua orang membawa sesuatu yang jauh lebih penting. Mereka membawa rasa rindu yang baru saja terbayar.

Besok pagi, banyak dari kami mungkin akan berdiri di depan timbangan.

Lalu menghela napas.

Dalam hati berjanji, tahun depan harus lebih kuat menolak tambah nasi.

Harus lebih tegas ketika ditawari dodol.

Harus lebih disiplin.

Aku sudah membuat janji itu berkali-kali. Dan selalu gagal.

Untungnya, ada kegagalan yang tidak pernah benar-benar ingin disesali.

Sebab kalau harga yang harus kubayar untuk bertemu keluarga, tertawa bersama sahabat, mendengar cerita orang-orang yang lama tak bersua, dan melihat rumah-rumah kembali dipenuhi tamu hanyalah angka di timbangan yang naik satu atau dua kilogram, rasanya itu masih murah.

Pada akhirnya, Pengucapan Syukur tidak pernah hanya tentang makanan.

Ia adalah alasan bagi orang-orang untuk pulang. Dan di zaman ketika semakin banyak orang merasa sibuk, mungkin yang paling kita butuhkan bukan sekadar jalan yang mulus menuju kampung.

Melainkan selalu ada alasan untuk kembali mengetuk pintu rumah yang dulu mengajarkan kita arti berbagi.


*Rendai Ruauw*

.

.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Satu-satunya Macet yang Selalu Kutunggu Setiap Tahun "So makang?"

Terkini

Iklan