Iklan

Iklan

Srikandi di Kaki Gunung Awu: Kisah Dua Mantan Finalis Momo Sangihe yang Tergerak Menjadi Relawan Karhutla

September 14, 2026, 11:23 PM WIB Last Updated 2026-09-14T15:23:25Z


SANGIHE , Elnusanews – Di balik kepulan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Awu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, terselip kisah inspiratif dari garda depan posko kemanusiaan. Dua perempuan muda yang sebelumnya dikenal lewat ajang kontes daerah Momo dan Ungke Sangihe, kini memilih menanggalkan keanggunan panggung demi mengabdikan diri di Posko Relawan Utama, Kecamatan Kendahe.


Mereka adalah Kayla Priscila Balanehu dan Christy Regina Sasauw, A.Md.Kom. Di kalangan masyarakat Sangihe, nama keduanya tidak asing. Kayla merupakan lulusan SMA Negeri 1 Tahuna yang menyabet gelar Wakil II Momo Sangihe 2026. Sementara Christy, atau yang akrab disapa Gina, merupakan peraih gelar Momo Favorit Sangihe pada ajang yang sama.


Kini, selama sembilan hari berturut-turut, keduanya mengemban tanggung jawab besar di posko induk demi memastikan pergerakan logistik dan informasi berjalan tanpa hambatan. Kayla dipercayakan sebagai Bendahara Posko, sedangkan Gina bertindak sebagai Admin Media Center.


Langkah menjadi relawan ini bukan karena paksaan, melainkan murni inisiatif pribadi yang tergerak dari aksi solidaritas sesama kaum muda. Gina menceritakan bahwa gerakan ini awalnya dipicu oleh ajakan salah satu rekan mereka, Arjuna Rahayaan, yang menggaungkan donasi terbuka untuk karhutla Gunung Awu.


"Dari situ kami tergerak memulai dari hal kecil, mengumpulkan donasi, lalu membelikan logistik, obat-obatan P3K, dan alat seadanya. Puji Tuhan, masyarakat Sangihe sangat peduli. Walau tidak bisa turun langsung ke lapangan, bantuan mereka terus mengalir," ujar Gina ketika diwawancarai media ini di Posko Utama Khartula Kecamatan Kendahe, Senin (14/9/2026).


Senada dengan Gina, Kayla yang baru saja menyelesaikan bangku sekolah menengah merasa memiliki kewajiban moral untuk mengambil peran.


"Karena saya baru lulus dari SMA Negeri 1 Tahuna tahun ini dan belum ada kegiatan, saya pikir kalau bukan kita generasi muda yang bergerak, mau siapa lagi?" tutur Kayla.


Tugas di posko tidak hanya sekadar mencatat bantuan. Peran perempuan di posko sangat vital, mulai dari mengelola dapur umum untuk menyediakan makanan bagi petugas pemadam, hingga mengantarkan langsung bantuan ke titik krusial.


Beberapa hari lalu, Kayla bahkan ikut mendaki jalur ekstrem Gunung Awu untuk menyuplai air bersih dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan oleh relawan di lokasi kebakaran. Ia harus berhadapan dengan medan yang bertaruh nyawa.


"Kendala terbesar adalah suplai air karena sangat berat dibawa di dalam tas. Kami membawa galon masing-masing, padahal jalur yang dilalui sangat terjal. Kanan-kiri itu jurang dan tanjakannya tinggi sekali. Tapi puji Tuhan, kami bisa sampai dengan selamat," kenang Kayla.


Sebagai bendahara, Kayla juga memastikan akuntabilitas seluruh bantuan yang masuk, baik dari komunitas, dinas terkait, maupun perorangan. Setiap barang dan uang yang diterima dicatat secara tertulis dan dilaporkan secara transparan untuk kemudian dikonversi menjadi kebutuhan pokok.


Di sisi lain, Gina yang mengomandani Media Center memiliki misi penting menjaga alur informasi di tengah masifnya narasi liar di media sosial. Tugasnya adalah mendokumentasikan seluruh aktivitas, menyaring informasi lapangan, dan memastikan masyarakat mendapatkan kabar yang valid mengenai situasi di posko induk maupun sub-posko seperti di Sawang Jauh, Talawid, dan Tariang.


"Gunanya media center ini agar informasi apa pun yang terjadi di lapangan bisa diketahui dengan jelas oleh masyarakat, sehingga menghindari kesalahpahaman," kata lulusan bergelar Ahli Madya Komputer tersebut.


Menghadapi musibah bencana yang masih berlangsung, keduanya berharap kebakaran hutan di Gunung Awu bisa segera padam dan seluruh petugas diberikan kekuatan. Namun lebih dari itu, Gina berharap momentum ini menjadi titik balik pembentukan kelompok masyarakat yang terstruktur dalam menghadapi bencana ke depan.


"Melihat tanggapnya para relawan saat ini, kami berharap ke depan bisa dibentuk kelompok Masyarakat Tanggap Bencana. Perlu ada pelatihan khusus, jadi ketika terjadi bencana di kemudian hari, kita sudah memiliki masyarakat yang sigap, cakap, dan tanggap," pungkas Gina.


(OpMud)


697 dilihat
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Srikandi di Kaki Gunung Awu: Kisah Dua Mantan Finalis Momo Sangihe yang Tergerak Menjadi Relawan Karhutla

Terkini

Topik Populer

Iklan