SANGIHE , Elnusanews — Proses lelang komoditas sarang burung walet hasil panen dari Gua Kalama sebanyak kurang lebih 36 kilogram dinyatakan gagal. Agenda yang berlangsung di Ruang Serbaguna Kantor Bupati Kepulauan Sangihe pada Senin (10/8/2026) tersebut menemui jalan buntu setelah tidak ada kesepakatan harga antara pihak panitia lelang Pemerintah Daerah (Pemda) dan para peserta lelang (pembeli).
Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Setda Sangihe, Ir. Gregorius Dominus Londo, S.T., S.E., M.Sc., menjelaskan bahwa Pemda awalnya membuka harga limit sebesar Rp6.500.000 per kilogram berdasarkan perhitungan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) selaku instansi yang berwenang.
"Namun, tiga peserta yang mendaftar meminta agar harga limit tersebut diturunkan. Menanggapi permintaan itu, panitia langsung menggelar rapat darurat bersama Dinas Perindag," ujar Gregorius saat diwawancarai awak media usai memimpin jalannya lelang, Senin (10/8/2026).
Setelah melakukan kajian ulang, panitia sepakat menurunkan harga limit menjadi Rp4.500.000 per kilogram. Pemda kemudian memberikan perpanjangan waktu kepada peserta hingga pukul 15.30 WITA untuk mengajukan penawaran baru.
"Sayangnya, sampai batas waktu yang ditentukan, semua peserta menyatakan tetap tidak sanggup. Karena itu, lelang hari ini resmi kami nyatakan gagal," tambah Gregorius.
Pemda Sangihe berencana membuka kembali proses lelang dalam kurun waktu satu hingga dua hari ke depan. Langkah cepat ini diambil demi menjaga kualitas sarang walet agar tidak rusak atau mengalami penurunan mutu.
Jika dalam tenggat waktu tersebut tidak ada pembeli (buyer) yang berminat membeli langsung sesuai harga limit Rp4,5 juta, Pemda akan melakukan penjualan langsung. Namun, jika tetap sepi peminat, kalkulasi ulang untuk menentukan harga lelang baru terpaksa harus dilakukan.
Sebagai informasi, hasil bersih penjualan sarang burung walet ini nantinya dibagi dengan skema 60 persen untuk pihak Kampung Kalama dan 40 persen untuk Pemda Sangihe setelah dipotong pajak.
Di tempat yang sama, Kapitalaung (Kepala Desa) Kampung Kalama, Eksplandriks Kahimpong, membeberkan alasan mengapa harga limit tidak bisa diturunkan di bawah Rp4.000.000 per kilogram. Menurutnya, alokasi 60 persen untuk kampung sepenuhnya terserap untuk membiayai operasional panen yang sangat tinggi.
"Ini adalah panen ketiga dalam setahun. Biaya operasional panen ketiga adalah yang paling membengkak karena jarak waktu dari panen kedua cukup panjang, sekitar empat bulan. Selama empat bulan itu, kami harus membayar biaya penjagaan goa secara ketat," ungkap Eksplandriks.
Ia menambahkan, selisih biaya operasional panen ketiga ini bisa mencapai Rp20 juta lebih tinggi dibanding panen pertama atau kedua. Komponen biaya tersebut mencakup konsumsi, pelaporan, perlengkapan panen, upah pekerja, hingga transportasi logistik pulang-pergi dari Kampung Kalama ke kabupaten.
"Jika harga jatuh di bawah Rp4 juta, formula 60 persen bagian kampung jelas tidak akan menutupi biaya operasional. Kami tidak bisa pulang pokok (balik modal). Kami berharap Pemda punya solusi konkret jika ke depan terpaksa terjual di bawah harga tersebut agar kami tidak berhadapan dengan masalah di masyarakat," cetusnya.
Sementara itu, salah peserta lelang, Adwin Pratama, mengungkapkan alasan para pembeli kompak mundur dari penawaran harga limit Pemda. Berdasarkan hasil inspeksi fisik, kualitas sarang walet pada panen ketiga ini mengalami penurunan drastis dibanding panen bulan Februari (panen pertama dan kedua).
"Kualitas panen ketiga ini sangat berbeda. Bagian kaki-kaki sarang burung walet sangat kotor dan banyak sekali bulu yang melekat di dalamnya. Berdasarkan kondisi barang tersebut, keputusan kami adalah tidak bisa mengikuti harga Rp4,5 juta yang dipatok panitia," kata Adwin.
Adwin mengaku bahwa para pembeli sebenarnya menawar di angka Rp3.000.000 per kilogram, yang dinilai realistis untuk kondisi sarang walet saat ini. Namun, permintaan tersebut ditolak panitia karena pertimbangan tingginya biaya operasional yang harus ditanggung oleh pihak kampung.
Proses negosiasi pun berakhir tanpa hasil, dan pihak Pemda Sangihe kini tengah berpacu dengan waktu sebelum kualitas sarang burung walet tersebut semakin menyusut.
(OpMud)
697 dilihat
