Oleh: Rendai Ruauw
MANADO, Elnusanews - Ada hari ketika sebuah lembaga tidak perlu berbicara tentang pekerjaan.
Tidak perlu berbicara tentang laporan, regulasi, pengawasan, rapat, target atau angka-angka kinerja.
Cukup berkumpul.
Tertawa.
Bergerak bersama.
Dan sesekali menyadari bahwa di balik jabatan, seragam dan meja kerja, ada manusia-manusia yang sedang menempuh perjalanan yang sama.
Mungkin itulah salah satu makna yang dapat dipetik dari kegiatan outbound Bawaslu Provinsi Sulawesi Utara yang menjadi penutup rangkaian peringatan HUT ke-18 Bawaslu sekaligus dirangkaikan dengan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sebuah perjumpaan yang sekilas tampak sederhana.
Tetapi justru dalam kesederhanaan itu tersimpan pesan yang tidak sederhana.
Sebab kegiatan tersebut mengusung tema:
“Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.”
Sebuah tema yang terdengar besar.
Namun kebesaran sebuah tema selalu diuji oleh bagaimana ia diterjemahkan dalam pekerjaan sehari-hari.
Sebab Indonesia yang berdaulat tidak hanya dibangun oleh pidato kenegaraan.
Indonesia yang adil tidak hanya lahir dari kata-kata tentang keadilan.
Dan Indonesia yang makmur tidak hanya ditentukan oleh angka pertumbuhan ekonomi.
Semua itu membutuhkan manusia yang bekerja dengan integritas.
Termasuk mereka yang bekerja di dalam lembaga pengawasan pemilu.
---
Ada pula subtema yang tidak kalah penting:
“Kolaborasi Memperkokoh Demokrasi Substansial Melalui Pengawasan Pemilu yang Berintegritas Dalam Rangka Mewujudkan Indonesia Maju Menuju Indonesia Baru.”
Kata yang mungkin paling sederhana dari rangkaian kalimat panjang itu adalah: kolaborasi.
Tetapi justru kata itulah yang sering kali paling sulit diwujudkan.
Sebab manusia lebih mudah berjalan sendiri daripada berjalan bersama.
Kita lebih mudah merasa paling benar daripada mendengarkan orang lain.
Lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada mengakui kekurangan diri sendiri.
Padahal demokrasi tidak pernah dibangun oleh satu orang.
Demokrasi adalah pekerjaan bersama.
Ia membutuhkan penyelenggara pemilu.
Membutuhkan peserta pemilu.
Membutuhkan masyarakat.
Membutuhkan pers.
Membutuhkan lembaga pengawasan.
Membutuhkan aparat penegak hukum.
Dan, yang paling penting, membutuhkan warga negara yang percaya bahwa suaranya memiliki arti.
Karena itu, kolaborasi bukan sekadar bekerja bersama.
Kolaborasi adalah kesediaan untuk mengakui bahwa tidak ada satu pihak pun yang memiliki seluruh jawaban.
---
Menariknya, pesan itu justru terasa sangat nyata dalam sebuah outbound.
Di sana, seseorang mungkin tidak bisa menyelesaikan permainan seorang diri.
Ada tangan yang harus digenggam.
Ada teman yang harus menunggu.
Ada strategi yang harus disusun.
Ada aturan yang harus ditaati.
Dan ketika seseorang terjatuh, yang lain membantu berdiri.
Bukankah demokrasi juga demikian?
Demokrasi adalah permainan bersama yang memiliki aturan.
Ada yang menang.
Ada yang kalah.
Tetapi kemenangan tidak boleh diperoleh dengan merusak aturan.
Kekalahan tidak boleh menjadi alasan untuk menghancurkan permainan.
Dan pengawasan tidak boleh dimaknai sebagai upaya mencari-cari kesalahan semata.
Pengawasan adalah cara memastikan agar semua pihak tetap berjalan di dalam koridor yang telah disepakati.
Di situlah pengawasan pemilu yang berintegritas menemukan maknanya.
Bukan sekadar mengawasi.
Bukan sekadar mencatat pelanggaran.
Bukan sekadar menindak.
Tetapi menjaga agar demokrasi tidak kehilangan rohnya.
---
HUT ke-18 Bawaslu juga seharusnya tidak hanya menjadi perayaan usia sebuah lembaga.
Delapan belas tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk bertanya:
Sudah sejauh mana pengawasan pemilu memberi arti bagi demokrasi Indonesia?
Pertanyaan itu mungkin tidak selalu nyaman.
Tetapi lembaga yang sehat tidak takut bertanya kepada dirinya sendiri.
Sebab demokrasi juga membutuhkan keberanian untuk melakukan introspeksi.
Pengawasan pemilu harus terus bergerak dari sekadar demokrasi prosedural menuju demokrasi substansial.
Pemilu memang membutuhkan surat suara, bilik suara, TPS, tahapan, jadwal dan berbagai prosedur.
Tetapi demokrasi tidak berhenti di sana.
Di balik semua prosedur itu ada manusia.
Ada harapan.
Ada pilihan.
Ada kepercayaan.
Ada masa depan.
Dan karena itu, setiap suara rakyat harus diperlakukan bukan sebagai angka, melainkan sebagai amanah.
Satu suara mungkin tampak kecil.
Tetapi bagi orang yang memberikannya, suara itu adalah bagian dari kebebasannya sebagai warga negara.
Kemudian datanglah kemerdekaan.
Tahun ini Indonesia memasuki usia 81 tahun.
Delapan puluh satu tahun adalah perjalanan panjang.
Generasi yang dahulu berjuang merebut kemerdekaan mungkin tidak pernah membayangkan seperti apa Indonesia pada hari ini.
Mereka mungkin tidak mengenal istilah digitalisasi, media sosial, artificial intelligence, atau berbagai istilah yang kini menjadi bagian dari kehidupan kita.
Tetapi mereka mengenal satu hal yang jauh lebih penting:
pengorbanan
Mereka memahami bahwa kemerdekaan tidak diberikan secara cuma-cuma.
Karena itu, generasi hari ini tidak cukup hanya menikmati kemerdekaan.
Kemerdekaan harus diisi.
Dengan kerja.
Dengan kejujuran.
Dengan pelayanan.
Dengan tanggung jawab.
Dengan menjaga persatuan.
Dan dengan memastikan bahwa demokrasi tetap menjadi jalan bagi rakyat untuk menentukan masa depannya.
Mungkin itulah sebabnya penutupan rangkaian HUT ke-18 Bawaslu yang dirangkaikan dengan menyambut HUT ke-81 RI memiliki makna tersendiri.
Dua perjalanan bertemu di satu titik.
Perjalanan sebuah lembaga pengawasan demokrasi yang memasuki usia 18 tahun.
Dan perjalanan sebuah bangsa yang memasuki usia 81 tahun kemerdekaan.
Keduanya membawa pertanyaan yang sama:
Apa yang telah kita lakukan dengan waktu yang diberikan kepada kita?
Usia tidak semestinya hanya dirayakan.
Usia harus menjadi bahan perenungan.
Semakin tua sebuah bangsa, seharusnya semakin dewasa demokrasinya.
Semakin matang sebuah lembaga, seharusnya semakin kuat integritasnya.
Semakin panjang pengalaman seseorang, seharusnya semakin rendah hati ia dalam menjalankan pengabdian.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa meriah kita merayakan ulang tahun.
Melainkan seberapa banyak nilai yang berhasil kita pertahankan setelah perayaan itu selesai.
Maka biarlah outbound itu menjadi lebih dari sekadar permainan.
Biarlah ia menjadi metafora tentang perjalanan panjang sebuah bangsa dan demokrasi.
Bahwa kita tidak selalu harus berlari paling cepat.
Kadang kita perlu menunggu teman yang tertinggal.
Bahwa kita tidak selalu harus menjadi yang pertama.
Kadang kita harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk berjalan di depan.
Bahwa kita tidak selalu harus menang.
Sebab dalam demokrasi, yang jauh lebih penting daripada kemenangan adalah keadilan dalam proses untuk mencapainya.
Dan bahwa dalam sebuah perjalanan panjang, kita tidak akan pernah benar-benar sampai apabila kita memilih berjalan sendirian.
Kolaborasi, pada akhirnya, bukan sekadar tema kegiatan.
Ia adalah kebutuhan demokrasi.
Ia adalah jalan menuju Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur.
Namun kolaborasi hanya akan bermakna jika dibangun di atas integritas.
Sebab tanpa integritas, kolaborasi dapat berubah menjadi kompromi.
Tanpa kejujuran, kebersamaan dapat berubah menjadi kepentingan bersama yang salah arah.
Dan tanpa keberanian menjaga prinsip, demokrasi bisa tampak hidup di permukaan tetapi kehilangan jiwa di dalamnya.
Karena itu, pengawasan pemilu yang berintegritas bukan hanya tugas kelembagaan.
Ia adalah bagian dari ikhtiar menjaga masa depan republik.
---
Pada akhirnya, kemerdekaan mungkin memang tidak selalu hadir dalam suara meriam atau pekik perjuangan.
Kadang ia hadir dalam sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Dalam kejujuran seorang pegawai.
Dalam keberanian seorang pengawas.
Dalam ketulusan seorang pelayan publik.
Dalam kesediaan seorang pimpinan mendengar.
Dalam kerja sama orang-orang yang berbeda posisi tetapi memiliki tujuan yang sama.
Dan dalam keberanian kita untuk berkata:
demokrasi harus dijaga, bukan hanya ketika kita membutuhkan hasilnya, tetapi terutama ketika kita sedang diuji oleh prosesnya.
Delapan belas tahun Bawaslu.
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka.
Dua angka yang berbeda, tetapi membawa pesan yang sama:
Waktu terus berjalan.
Generasi berganti.
Lembaga berkembang.
Bangsa bergerak.
Dan kita semua akan meninggalkan jejak.
Pertanyaannya bukan lagi berapa lama kita telah bekerja.
Melainkan:
jejak seperti apa yang ingin kita tinggalkan?
Semoga jawabannya adalah integritas.
Semoga jawabannya adalah pengabdian.
Semoga jawabannya adalah demokrasi yang semakin dewasa.
Dan semoga, dari Sulawesi Utara, semangat kolaborasi itu terus tumbuh—menjadi bagian kecil dari ikhtiar besar menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat, adil dan makmur.
Sebab pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah keberanian untuk memastikan bahwa tidak seorang pun kehilangan haknya hanya karena kita gagal menjaga keadilan.
Dan demokrasi yang baik bukanlah demokrasi yang sekadar ramai ketika pemilu tiba.
Demokrasi yang baik adalah demokrasi yang tetap hidup, bahkan ketika sorak-sorai telah selesai, bendera telah dilipat, dan kita kembali ke meja kerja masing-masing.
Di sanalah pengabdian sesungguhnya dimulai.
697 dilihat
